Entri Populer

Wednesday, 11 July 2012

Latihan Di Trawas Pacet

  Latihan Alam Di Trawas Pacet


Sedikit cerita bulan lalu, tapi baru sempat kutilis sekarang. Tepatnya tanggal 26-27 mei 2012. Ada pelantikan buat anggota yang beberapa minggu yang lalu ujian kenaikan tingkat. Meskipun tidak ikut pelantikan,tapi aku tetep ikut sekalian jalan-jalan. Rencana awal hanya yang pelantikan saja yang ikut, tetapi ternyata yang berminat sangat banyak. Kira-kira yang berangkat sampai 20 orang. Sehingga perlu perencanaan lebih lanjut, apakah nanti berangkatnya naik motor, naik angkot, nyewa mobil, atau truk.
Setelah di musyawarahkan, akhirnya naik motor, sekalian touring. Mas Yonk mengusulkan agar berangkat malam hari. Karena rencananya acara di mulai hari minggu jam 8 pagi. Berhubung yang ikut banyak, acaranya menjadi dua hari yakni tanggal 26-27 Mei. Tapi, seperti biasa. Ketika mendekati hari H banyak yang mengundurkan diri, dengan alasan yang jelas dan tidak jelas. Akhirnya yang jadi berangkat aku, asep, averus, rizki, mas cahyono, dan adi. Mas dodo, mas mawardi menyusul sore hari. Sedangkan mas yonk berangkat malam.
Tempat pelantikan dan latihan alamnya berada di desa Trawas, Mojokerto. Kalau dari Malang dapat ditempuh melalui cangar, atau lewat pacet. Setelah di rembuk, akhirnya kita berangkat lewat cangar. Karena tidak macet, juga tidak panas karena melewati hutan lindung. Pasti menyenangkan touring melewati hutan.
Kita berangkat jam satu siang. Kumpul di unit terlebih dulu. Setelah semuanya datang akhirnya kita berangkat juga. Jam setengah dua kita memulai perjalanan. Aku sama averus, rizki sama adi, mas cahyono boncengan sama asep. Jarak yang di tempuh kurang lebih 58 km.
Perjalanan baru di mulai, kita sudah bertemu kemacetan di dinoyo sampai landung sari. Karena hari sabtu juga jadi banyak yang mau ke batu. Seharusnya hanya memakan waktu 15 menit biar sampai pendem, tapi kali ini lebih. Kita berhenti untuk mengisi bensin di SPBU pendem, habis ini perjalanan non stop batu-cangar-pacet-trawas. Semoga perjalanan aman-aman saja aamiin.
Setelah dari pendem, perjalanan sudah lancar. Ketika sudah melewati alun-alun, perempatan pertama belok kanan. Yang pernah ke cangar pasti sudah tahu kondisi sekitar menuju cangar. Setelah perempatan di kanan kiri masih banyak perumahan. Juga terdapat yang jualan bunga. Jalan terus kita akan menemukan tempat rekreasi selecta. Selepas selecta jalanan semakin naik terus. Di kanan kiri kita ladang-ladang penduduk terhampar luas. Memandang jauh tampak perbukitan yang berjajar. Hawa dingin mulai berasa brrrr. Sejak dari batu aku di tinggal, maklum ervan jalannya pelan-pelan kalau ditanjakan. Tidak masalah yang penting selamat.
Setelah melewati tanjakan terakhir, kita akan menemukan turunan dan tikungan yang tajam. Habis ini kita sudah sampai si kolam air panas Cangar. Teman-teman yang lain nunggu di sini. Setelah ini perjalanan semakin seru. Kita akan menembus Hutan Raya R.Soeryo. Setelah cangar kita berjalan pelan, sekita 40 km/jam. Jalannya cukup sempit, pas untuk satu truk saja. Di kanan kiri sudah bersentuhan dengan tanaman hutan sepanjang perjalanan. Jalannya juga cukup bagus untuk daerah hutan hehe.
Setelah melewati hutan yang padat, di kanan nampak punggung bukit gunung arjuna. Sungguh pemandangan yang indah. Tapi kalau sedang nyetir motor hati-hati karena keasyikan melihat pemandangan tidak waspada dengan depan kita. Yang di bonceng enak bisa puas melihat pemandangan.
Sekitar satu jam kemudian kita akan menemukan tempat rekreasi. Sepertinya wisata rafting. Setelah itu kita menemukan desa setelah perjalanan panjang di tengah hutan. Pacet masih sekitar 6 km lagi. Menemukan keramaian lagi. Setelah menyusuri jalan selama beberapa menit, ternyata belum sampai tujuan. Kita kira trwas daerah pacet, ternyata masih 10 km lg haha. Setelah melewati turunan, kita mulai naik lagi. Tapi ternyata penginapan yang kita tuju tidak di Trawasnya, 6 km saja dari Pacet.
Undangannya pembukaan di mulai jam 3 sore. Kita sampai jam 4 dikiranya sudah mulai.ternyata kita yang pertama kali datang haha. Foto-foto dulu hehe.

menembus hutan
Nyampai pertama


    

Di trawas tempat kita menginap, terdiri dari 1 rumah dan tanah lapang yang cukup luas. Penginapan ini sepertinya sengaja untuk outbond. Rumah temat kita menginap teriri dari dua lantai. Lantai pertama ada sebuah ruangan yang luas dan kamar. kamarnya juga cukup luas cukup untuk 10 orang. Di lantai satu ini sudah di sediakan kasur busa kecil dan bantal. Kasurnya terbatas tapi bantalnya melimpah ruah.
Pemandangan di depan penginapan sungguh bagus. Di depan berdiri gunung penanggungan yang berdiri sendiri. Sedangkan di kanan terdapat gunung welirang, dibaliknya tentu saja gunung arjuna. Sekitar pukul setengah enam mas Dodo dan mas Mawardi baru datang. Acara di mulai pukul 6. Mas Yonk sendiri baru nyampai sekitar pikul 11 malam. Tidak lewat Cangar, tetapi lewat tretes.
Acaranya tidak perlu diceritakan y hehe. Acara selesai jam 10 pagi hari minggu. Setelah paking kita pulang jam 12. Berbeda dengan waktu berangkat, sejak dari pacet jalannya langsung menanjak. Motor pun masuk gigi 1 terus. Benar-benar di manfaatkan gigi 1. 3 kali motorku tidak kuat nanjak, terpaksa averus turun bentar hehe. Perjalanan pulang tetep di beri suguhan pemandangan yang bagus. Kapan-kapan boleh touring lagi. Sayonara.

INFO:
Akses menuju trawas:
1.      Jika dari arah Malang kita bisa lewat rute Pandaan – Prigen – Trawas.
2.      lewat rute Batu – Cangar – Pacet – Trawas.
3.      Jika ditempuh dari Mojokerto kita bisa lewat rute Pacet – Claket – Trawas.
4.      Mojosari – Trawas.
5.      Jika dari Surabaya kita bisa lewat rute Krian – Mojosari – Trawas.
6.       Sidoarjo – Gempol – Mojosari – Trawas,
7.      Pandaan – Prigen – Trawas. 

Malang, 5 juli 2012


Cap Jempol

Thursday, 5 July 2012

Malang

 
Belajar sejarah dulu y hehe
Aloon-aloon asal kelakon
Pernah dengar ungkapan bijak bahasa Jawa diatas? Alon-alon asal kelakon, artinya perlahan tetapi pasti atau tidak terburu-buru dalam bertindak. Mengingatkan orang agar selalu waspada, nah, itu kalau alon-alon ( pelan-pelan), jika anda cermat, judul diatas bukan alon-alon, tapi aloon-aloon! Beda Jumlah huruf oo, tapi artinya justru sangat berbeda sekali. Aloon-aloon adalah bahasa Belanda, berubah menjadi kata Alun-alun yang artinya lapangan terbuka.
Zaman Hindu-Budha, alun-alun telah dikenal (Kitab Negara Kertagama)  asal usul kata ini dari kepercayaan masyarakat tani yang setiap kali ingin menggunakan tanah untuk bercocok tanam, maka haruslah dibuat upacara minta izin kepada  dewi tanah  dengan jalan membuat sebuah lapangan  tanah sacral yang berbentuk persegi empat  dan  sekarang dikenal masyarakat sebagai alun-alun. Pada Masa kerajaan Mataram, di Alun-alun depan istana secara rutin diperuntukkan rakyat Mataram jika ingin menghadap Penguasa Alun-alun pada masa itu sudah berfungsi sebagai pusat administratif dan sosial budaya bagi penduduk pribumi.
Masyarakat berdatangan ke alun-alun untuk memenuhi panggilan ataupun mendengarkan pengumuman atau melihat unjuk kekuatan berupa peragaan bala prajurit dari penguasa setempat, Fungsi sosial budaya dapat dilihat dari kehidupan masyarakat dalam berinteraksi satu sama lain, apakah dalam perdagangan, pertunjukan hiburan ataupun olah raga. Untuk memenuhi seluruh aktivitas dan kegiatan tersebut alun-alun hanya berupa hamparan lapangan rumput yang memungkinkan berbagai aktivitas dapat dilakukan.
Pada Masa masuknya Agama Islam, seperti di alun-alun Malang, Gedung  Masjid Jami  dibangun di sekitar alun-alun. Alun-alun juga digunakan sebagai tempat kegiatan-kegiatan hari besar Islam termasuk Salat Idul Fitri. Pada jaman pra-kolonial, baik kota pusat kerajaan di pedalaman atau di pesisir dibangun berdasar konsep tata ruang yang sama, yaitu adanya sebuah lapangan luas yang ditengahnya ditanam satu atau dua buah pohon beringin yang disebut Alun-alun, (Santoso,1984). Sistem kaidah yang dipakai orang Jawa disebut Hasta brata dikenal juga dengan ungkapan Kiblat Papat Limo Pancer yaitu keseluruhan ruang dibagi menjadi 4 atau 8 bagian.
Pengelompokan dibuat berdasar padanan hal positif negatif, unsur air di timur, api ditempatkan di Barat. Pusat ruangan dipandang sebagai pusat dunia ( Sartono Kartodirdjo,1987). Nah itulah sebabnya kenapa hampir semua pusat kota di Jawa mempunyai bentuk struktur yang hampir sama, pendopo Bupati, Masjid Jami’, Penjara dan Kantor Residen (Walikota) berada dialun-alun.  Sebelah selatan merupakan daerah sakral dan utara merupakan daerah profan, oleh sebab itu di semua Alun-alun, rumah bupati selalu diletakkan di selatan, kecuali di Malang,  yang ditempatkan sebelah timur menghadap ke selatan, tidak jelas alasannya, mengapa, tapi kemungkinan karena Malang dikenal daerah dengan pertahanan yang kuat maka kepercayaan daerah yang sakral untuk kantor bupati sengaja dirubah, tidak perlu diawasi langsung oleh residen.
Jika benar Alun-alun Malang didirikan tahun 1882 (Kotapraja Malang,1964) maka jelas pembangunan Alun-alun Malang untuk kepentingan Belanda yang menjadikan Alun-alun sebagai pusat kontrol. Hampir semua kegiatan produksi ekonomi terkumpul disana, Belanda sengaja menempatkan kantor bupati berhadapan dengan Assisten Residen, di sebelahnya Masjid Jami’ berhadapan dengan penjara dengan maksud setiap saat Assisten Residen dapat mengontrol kegiatan bupati dan penduduk yang selalu berkumpul di pendopo bupati atau Masjid Jami’. Karena Alun-alun dipandang sebagai pusat kegiatan kota, maka secara tidak langsung pola pemukiman juga menyesuaikan dengan kondisi tersebut. Pemukiman orang Eropa di sebelah Barat daya (Talun, Tongan, Sawahan), orang Cina di sebelah tenggara (Pecinan), Arab terletak di belakang Masjid (Kauman), dan pribumi di daerah Kebalen, Temenggungan, Jodipan. Sekarang dengan berkembangnya pembangunan kota Malang ke semua arah maka keramaian kota menjadi terpecah.
Nah, kata aloon-aloon telah kita bahas arti, fungsi dan asal usulnya, terus sekarang, kenapa di Malang terdapat dua alun-alun? Bukankah satu sudah cukup? Yah kalau dibilang cukup ya cukup, karena luas tanah dan perkembangan tahun 1900 masih memungkinkan untuk dioptimalkan, terus kalau dibilang tidak cukup, ya tidak cukup, alasannya untuk pertumbuhan Malang kedepan sebagai contoh kota pusat pemerintahan dengan disain tata kota yang baik mempunyai satu syarat yaitu lingkungan yang kondusif, di Malang dirasa tidak memungkinkan lagi digabungkan pusat kota dengan pusat pemerintahan. Pusat kota telah berkembang sedemikian cepat dengan bertumbuhnya pusat ekonomi, hiburan, keagamaan dan social, sedangkan pusat pemerintahan seiring dengan tumbuhnya kota Malang harus segera membangun gedung pusat pemerintahan satu atap ( block office). 
Pada tanggal 26 April 1920 pihak Gemeente (kotapradja) Malang memutuskan untuk membuat daerah pusat pemerintahan baru yang sekarang kita kenal dengan Alun-alun Bunder sesuai dengan bentuk  tanah lapang yang berbentuk bundar. Sebelum tahun 1914 Malang masih merupakan daerah bagian dari Karesidenan Pasuruan dan kekuasaan tertinggi di Malang adalah Assisten Residen yang kantornya di selatan Alun-alun (sekarang kantor Perbendaharaan dan Kas Negara). Setelah kota Malang dinaikkan statusnya menjadi Gemeente (Kotamadya) tanggal 1 April 1914, kota Malang berhak memerintah daerah sendiri dengan dipimpin oleh seorang Burgemeester (Walikota). Jabatan walikota waktu itu dirangkap oleh Asisten Residen sampai tahun 1918, baru tahun 1919 Malang mempunyai Walikota pertama HI Bussemaker

Setelah selesai dibangun alun-alun bundar, Malang masih belum mempunyai kantor pemerintahan yang permanen dan berwibawa. Pada 26 april 1920 dibuat perencanaan perluasan kota yang di dalamnya termasuk pembangunan gedung Balaikota sebagai tempat pemerintahan yang baru. Gagasan perencanaan itu timbul setelah walikota mengadakan sayembara perencanaan Balaikota Malang dengan juri Ir. W. Lemei, Ir. Ph.N. Te Winkel dan Ir. A. Grunberg. Dari 22 peserta lomba, tidak ada satupun yang memenuhi syarat. Maka, pada tanggal 14 Februari 1927 diputuskan oleh dewan kota agar rancangan yang paling baik diadakan perubahan dan segera dilaksanakan pembangunan dengan anggaran F. 287.000. Rancangan yang akhirnya dipakai adalah karya HF Horn dari Semarang dengan motto: Voor de burgers van Malang (untuk warga Malang).
 Pembangunan balaikota dilaksanakan tahun 1927 sampai 1929, dan mulai ditempati September 1929 oleh walikota ke dua Ir. EA Voorneman. Ruang walikota dirancang sendiri oleh C. Citroen dari Surabaya yang sampai sekarang masih terlihat megah. Bangunan yang tetap dipertahankan keasliannya ini menjadi bangunan cagar budaya di Malang yang dirancang bersama-sama para arsitek terkenal di Jawa saat itu.
Nah.. Keinginan untuk mempunyai 2 alun-alun telah kelakon meskipun dengan alon-alon, menurut saya lebih baik alon-alon asal kelakon, tapi kelakonnya dengan hasil yang  perfect dari pada ora alon-alon ora kelakon , cepat tapi tidak sesuai harapan. Tinggal sekarang bagaimana kita memanfaatkan kelakon itu dengan cerdas, bagaimana?

Penulis: Dwi Cahyono, Ketua Yayasan Inggil (
www.inggil.org). Pernah ditulis di Radar Malang

Wednesday, 4 July 2012

Bahasa


Lama tidak muncul, akhirnya bisa menulis di pena elektronik hehe. Karena sibuk dan tidak sempat untuk menulis akhirnya menghilang dari peredaran. Tapi setelah mendapat ilmu baru sepertinya akan ramai lagi blog saya xixixi. Bukan ilmu memecah gunung, membelah lautan, atau mengecat langit biru menjadi pink wkwkwkw. Tetapi bagaimana caranya supaya bisa posting otomatis. Di beritahu sama mas @foeads (lagi), makasih mas bro hahaha.
Baiklah kembali ke laptop. Mau menulis apa y, setelah vakum beberapa detik hehe. Oh iya pernah dengar kata “kunduran truk”. “kunduran truk” merupakan sebuah kalimat dari bahasa jawa. Yang sampai saat ini belum diketahui bahasa indonesianya (kalau sudah ada yang nemu silahkan d share. Kunduran truk  itu adalah keadaan dimana kita tertabrak truk yanf berjalan membelakangi kita (bingung kan tapi ngerti maksudnya) hehe.
Sedangkan dalam bahasa inggris kunduran truk adalah got hit by a truk that is moving backward. Sebuah kata sederhana yang sangat penting jika di artikan dalam bahasa inggris begitu panjangnya. Padahal jika itu kejadian nyata, seseorang pasti akan lebih ngeh kalau dibilang “awas kunduran truk!!!”. Bahasa jawa sepertinya merupakan bahasa yang bisa mengartikan suatu keadaan. “kunduran truk” itu sebagian kecil, selain itu di antaranya:

1.walk slowly on the edge (side) of the road = mlipir.
2. fall backward and then hit own head = nggeblak.
3. got hit by a truck that is moving backward= kunduran trek.
4. talk too much about unimportant thing = cangkeman.
5. smearing one's body with hot ointment or liquid and then massaging it = mblonyo.
6. going without notice/permission = mlethas.
7. taking the longer way to get to the destination= ngalang
8. riding an old bicycle = ngonthel.
9. falling/ tripping forward (and may hit own face)= kejlungup.
10. side effect after circumcision = gendhelen.
11. hot pyroclastic cloud rolling down a volcano = wedhus gembel.
12. a small, sharp thing embedded inside one's skin = susuben/ ketlusupen.
13. spending a lot of time doing nothing = mbathang.
14. feeling uncomfortable because there is something that smells bad = kambon.
15. things getting out from a container accidentally because of gravity = mbrojol.
16. get hit by thing collapsing on top of one's head/ body = kambrukan/ kembrukan.
17. drinking straight from the bottle without using glass, where whole bottle tip gets into the mouth = ngokop.
18. cannot open eyes because something is shining very bright = blereng.
29. cannot hold bowel movement = ngebrok.
20. something coming out from one's rear end little by little = keceret/ kecirit.
21. hanging on tightly to something in order to be inert = gondhelan.
22. falling/ tripping accidentally because of a hole = kejeglong.
23. doing something without thinking about the consequences = cenanangan.
24. being overly active carelessly = pecicilan.
25. feeling unwell because of cold temperature = katisen
Cukup sekian dulu, kalau ada lagi silahkan di tambah hehe.